Saat ini, banyak persepsi yang beredar di masyarakat jika ingin membangun bisnis yang sukses harus memiliki modal besar. Banyak orang yang mengatakan bahwa keuangan adalah penentu keberhasilan dalam memulai bisnis.

Tahukah kamu? Ada banyak para pengusaha yang sukses yang terlahir dari keluarga miskin dan sulit untuk memperoleh kehidupan layak semasa kecil hingga mudanya. Artinya, modal besar menjadi bukan satu-satunya penentu kesuksesan seorang pengusaha.

Berikut merupakan kisah inspiratif pengusaha sukses berikut ini mungkin bisa memberikan gambaran yang sesungguhnya jika kesuksesan bisnis sama sekali tidak dipengaruhi oleh modal keuangan yang kita miliki.

1. BOB SADINO

Bob Sadino yang akrab disapa “Om bob” lahir pada tanggal 9 Maret tahun 1933 di tanjung karang, Lampung. Sejatinya, pengusaha muslim ini lahir dari keluarga yang terbilang cukup bahkan berlebih. Betapa tidak, Bob yang hanya tamatan SMA mulai merantau ke Belanda, tepatnya pada usia 19 tahun. Kala itu, ia telah ditinggal sang ayah yang meninggal dunia. Berbekal warisan, Bob akhirnya menetap di Negeri Kincir Angin dan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan bernama Djakarta Lylod di kota Amsterdam. Kemudian, ia juga sempat dipindahkan ke Hamburg, Jerman.

Bukan hanya mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, di Belanda, Bob Sadino juga menemukan wanita idamannya yang kemudian menjadi istrinya, yakni Soelami Soejoed. Setelah mempersunting Soelami, ia pun memberanikan diri untuk melepas pekerjaanya di Belanda dan kembali ke tanah air. Modal yang dimiliki oleh Bob Sadino untuk menikahi Soelami adalah tekad. “saya nggak miskin, saya hanya memiskinkan diri,” kata Bob ketika ditanya sang calon istri sebelum menikah.

Pulang ke Indonesia dengan Tekad Besar

Kisah sukses Bob Sadino dalam merintis usaha pun akhirnya dimulai. Dengan bermodalkan 2 mobil mewah yang ia bawa dari Belanda, Bob akhirnya menjual kendaraan tersebut agar dapat dibelikan sebidang tanah di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Keluar dari pekerjaan membuat dirinya harus memutar otak bagaimana agar dapat terus bertahan hidup. Setelah itu, tercetuslah ide untuk menyewakan satu mobil tersisa dan ia sendiri yang menjadi sopirnya. Uang yang dihasilkan dari penyewaan tersebut sebenarnya sudah cukup untuk membiayai hidupnya dan juga istri. Namun, sebuah masalah besar pun akhirnya tiba.

Pada suatu ketika, Bob Sadino mengalami kecelakaan parah sehingga satu-satunya mobil sebagai mata pencaharian pun rusak parah. Tak memiliki uang untuk memperbaikinya, Bob harus memutar otak kembali bagaimana caranya untuk dapat uang. Merasa mentok dan tidak memiliki ide, ia akhirnya memutuskan untuk menjadi kuli batu dengan penghasilan yang sangat minim, yaitu Rp. 100,-. Karena kondisi keuangan yang amat buruk plus kebutuhan yang meningkat drastis, Bob mengalami depresi yang cukup berat. Namun, siapa sangka ketika sedang berada di zona tersebut, ia tetap berjuang demi membahagiakan keluarganya.

Belajar dari Filosofi Ayam

Di tengah rasa depresi yang melanda, Bob Sadino akhirnya mendapatkan pencerahan. Kisah suksesnya membangun usaha berawal dari sebuah masukkan dari seorang temannya yang bernama Sri Mulyono Herlambang. Pada waktu itu, ia menyarankan Bob untuk mencoba memelihara ayam. Pada awalnya, ayam digunakan agar Bob dapat melupakan semua kesulitan atau depresi yang dialaminya. Namun lama kelamaan, Bob melihat jika ayam berpotensi dapat memberikannya penghasilan yang banyak. Bermula dari situ, ia mulai berbisnis sebagai seorang peternak ayam.

Inspirasi usaha muncul secara tiba-tiba ketika dirinya tengah memperhatikan ayam. Belajar dari sebuah filosofi ayam yang mampu bertahan hidup, tentunya manusia harusnya bisa lebih giat dalam berusaha. Semenjak saat itu, Bob memilih untuk mulai berjualan telor ayam keliling. Selain menjadi peternak, ia dan istrinya mulai menjual satu persatu telur hasil produksi ayamnya sendiri. Tak pergi jauh, keduanya menjual telur tersebut di komplek perumahan sendiri. Karena tinggal di kawasan elit Kemang, sangat mudah bagi mereka untuk menjual telur dalam jumlah yang besar.

Kisah Sukses Pembuatan Supermarket

Didasari dengan pengalaman terjun langsung ke lapangan, Bob Sadino bisa mengembangkan bisnisnya menjadi semakin besar. Bahkan, ia berhasil membuat sebuah supermarket yang kemudian dikenal dengan nama Kem Chicks. Menurutnya, tidak perlu kebanyakan teori. Sebab, jika ingin maju, Anda harus terjun langsung ke lapangan. Melihat bagusnya perkembangan telur miliknya, Bob melebarkan ekspansi usaha ke sektor daging. Karena memang sudah terkenal, ia tak mendapatkan kesulitan ketika memasarkan produk keduanya tersebut. Terlebih lagi, target pasarnya merupakan warga asing yang tinggal di sekitaran rumahnya.

Berkat kemampuan dalam berbahasa Inggris, ia akhirnya mendapatkan banyak pelanggan setia warga negara asing. Sejak saat itu, ia mengetahui jika target pasarnya tersebut sangatlah besar. Pada tahun 1970, Bob dapat membuat pasar swalayan pertamanya yang diberi nama Kem Chicks. Bagi masyarakat lokal, swalayan tersebut terasa sangat asing karena Bob memang menargetkan pasarnya adalah warga negara asing. Keberhasilan Kem Chicks kemudian diikuti dengan pembuatan Kem Food sebagai supermarket kedua milik Bob yang khusus menjual olahan daging dan juga sosis.

10 tahun berselang, Bob Sadino kembali membuat supemarket baru yang bernama Kem Farm. Berbeda dari sebelumnya, kali ini, dia membuat pusat penjualan sayur terbesar di daerah Semarang. Tujuannya terbilang mulia, yakni agar dapat bekerja sama dengan petani lokal yang ingin mengembangkan usahanya. Bob Sadino juga bisa dibilang sebagai pionir dalam memperkenalkan sistem tanam hidroponik yang memanfaatkan tempat seadanya. Semua sayuran yang ia tanam tidak berada di tanah melainkan menggunakan pipa-pipa yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Pada saat pertama, lobak, ubi dan terong menjadi tiga produk andalan.

2. TIRTO UTOMO

konsultan,co

Tirto Utomo, warga asli Wonosobo, mendirikan perusahaan air munum dalam kemasan (AMDK) karena ketika bekerja sebagai pegawai Pertamina di awal tahun 1970-an Tirto bertugas menjamu delegasi sebuah perusahaan Amerika Serikat. Namun jamuan itu terganggu ketika istri ketua delegasi mengalami diare yang disebabkan karena mengonsumsi air yang tidak bersih. Tirto kemudian mengetahui bahwa tamu-tamunya yang berasal dari negara Barat tidak terbiasa meminum air minum yang direbus, tetapi air yang telah disterilkan.

Inisiatif bisnispun segera datang. Bersama saudara-saudaranya, Tirto mulai mempelajari cara memproses air minum dalam kemasan. Adiknya, Slamet Utomo diminta untuk magang di Polaris, sebuah perusahaan AMDK yang ketika itu telah beroperasi 16 tahun di Thailand. Tidak mengherankan bila pada awalnya produk Aqua menyerupai Polaris mulai dari bentuk botol kaca, merek mesin pengolahan air, sampai mesin pencuci botol serta pengisi air.

Usai mengerti cara kerja pembuatan air minum dalam kemasan, Tirto men­dirikan pabrik pertamanya di Pondok Ungu, Bekasi, dan menamai pabrik itu Golden Missisippi dengan kapasitas produksi enam juta liter per tahun. Tirto sempat ragu dengan nama Golden Missisippi yang meskipun cocok dengan target pasarnya, ekspatriat, namun terdengar asing di telinga orang Indonesia. Konsultannya, Eulindra Lim, mengusulkan untuk menggunakan nama Aqua karena cocok terhadap imej air minum dalam botol serta tidak sulit untuk diucapkan. Tirto kemudian mengubah merek produknya dari Puritas menjadi Aqua.

Dua tahun kemudian, produksi pertama Aqua diluncurkan dalam bentuk kemasan botol kaca ukuran 950 ml dengan harga jual Rp.75, hampir dua kali lipat harga bensin yang ketika itu bernilai Rp.46 untuk 1.000 ml.

Bermodal Keberanian 
Meskipun saat itu air mineral dalam kemasan belum ada di Indonesia, Tirto tetap yakin dengan langkahnya. Keluar dari tempat kerjanya yang mapan di Pertamina, pada 1982, Tirto mengganti bahan baku (air) yang semula berasal dari sumur bor ke mata air pegunungan yang mengalir sendiri (self-flowing spring) karena dianggap mengandung komposisi mineral alami yang kaya nutrisi seperti kalsium, magnesium, potasium, zat besi, dan sodium.

Dengan bantuan Willy Sidharta, sales dan perakit mesin pabrik pertama Aqua, sistem distribusi Aqua bisa diperbaiki. Willy menciptakan konsep delivery door to door khusus yang menjadi cikal bakal sistem pengiriman langsung Aqua. Konsep pengiriman menggunakan kardus-kardus dan galon-galon menggunakan armada yang didesain khusus membuat penjualan Aqua Secara konsisten membaik.

tahun 1974 sampai 1978 adalah masa-masa sulit bagi perusahaan ini. Apalagi permintaan konsumen masih sangat rendah. Masyarakat kala itu masih “asing” dengan air minum dalam kemasan. Apalagi harga 1 liter Aqua lebih mahal daripada harga 1 liter minyak tanah.

Tapi pemilik Aqua tidak menyerah. Dengan berbagai upaya dan kerja keras, akhirnya Aqua mulai diterima masyarakat luas. Bahkan tahun 1978, Aqua telah mencapai titik BEP. Dan saat itu menjadi batu loncatan kisah sukses Aqua yang terus berkembang pesat.

Saat itu memang produk Aqua ditujukan untuk market kelas menengah ke atas, baik dalam rumah tangga, kantor-kantor dan restoran. Namun sejak tahun 1981, Aqua telah berganti kemasan dari semula kaca menjadi plastik sehingga melahirkan berbagai varian kemasan. Hal ini menyebabkan distribusi yang lebih mudah dan harga yang lebih terjangkau sehingga produk Aqua dapat dijangkau masyarakat dari berbagai kalangan.

Dari sisi kemasan, Aqua juga menjadi pelopor. Botol plastiknya yang semula berbahan PVC yang tidak ramah lingkungan, sejak 1988 telah diganti menjadi bahan PET. Padahal saat itu di Eropa masih menggunakan bahan PVC. Selain itu desain botol Aqua berbentuk persegi bergaris yang mudah dipegang telah menggantikan desain botol bulat Eropa. Bahkan botol PET ciptaan Aqua ini telah dijadikan standar dunia.

Pada 1984, Pabrik AQUA kedua didirikan di Pandaan, Jawa Timur. Dan Pada 1995, Aqua menjadi pabrik air mineral pertama yang menerapkan sistem produksi in line di pabrik Mekarsari. Pemrosesan air dan pembuatan kemasan AQUA dilakukan bersamaan. Hasil sistem in-line ini adalah botol AQUA yang baru dibuat dapat segera diisi air bersih di ujung proses produksi, sehingga proses produksi menjadi lebih higienis.

Aqua juga sukses di  mancanegara. Sejak 1987, produk Aqua telah diekspor ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Fillipina, Australia, Maldives, Fuji, Timur Tengah dan Afrika. Berbagai prestasi dan penghargaan pun didapatkan baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Pada tahun 1998, karena ketatnya persaingan dan munculnya pesaing-pesaing baru, Lisa Tirto sebagai pemilik Aqua Golden Mississipi sepeninggal ayahnya Tirto Utomo, menjual sahamnya kepada Danone pada 4 September 1998. Akusisi tersebut dianggap banyak pihak sebagai langkah tepat setelah beberapa cara pengembangan tidak cukup kuat menyelamatkan Aqua dari ancaman pesaing baru.

Langkah ini berdampak pada peningkatan kualitas produk dan menempatkan AQUA sebagai produsen air mineral dalam kemasan (AMDK) yang terbesar di Indonesia. Pada tahun 2000, bertepatan dengan pergantian milenium, Aqua meluncurkan produk berlabel Danone-Aqua.

Almarhum Tirto Utomo pun dinobatkan sebagai pencetus air minum dalam kemasan dan masuk dalam “Hall of Fame” . Dan berdasarkan survey Zenith International, sebuah badan survey Inggris, Aqua dinobatkan sebagai merk air minum dalam kemasan terbesar di Asia Pasifik, dan air minum dalam kemasan nomor dua terbesar di dunia. Sebuah prestasi yang mungkin tidak pernah dikira-kira.

3. SUSI PUDJI ASTUTI


Susi lahir dari pasangan Haji Ahmad Karlan dan Hajjah Suwwuh Lasminah. Kedua orang tuanya berasal dari Jawa Tengah, tetapi sudah tinggal lama di Pangandaran, Jawa Barat. Keluarganya memiliki usaha ternak, memperjualbelikan ratusan ternak dari Jawa Tengah untuk diperdagangkan di Jawa Barat. Susi memiliki seorang kakek bernama Haji Ireng yang dikenal sebagai tuan tanah di daerahnya.

Wanita yang hampir menginjak usia 54 tahun ini, hanya mengenyam bangku pendidikan tingkat SMP kala itu. Bukan tidak melanjutkan, Susi pernah mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 Yogyakarta, akan tetapi berhenti di kelas 2 karena di drop-out akibat keaktifannya dalam gerakan Golput saat itu.

Meski terlahir dari keluarga yang berkecukupan, perjalanan karir gemilangnya bukan mewarisi usaha orang tuanya.  Seputus sekolah, ia menjual perhiasan milik pribadi dan mengumpulkan modal sebesar Rp750.000 untuk memulai bisnisnya sebagai pengepul ikan di Pangandaran pada 1983 silam.

Ia menjelajah beberapa restoran dan menjual ikan yang berhasil dikumpulkannya saat itu. Namun, tak semua restoran percaya akan kualitas ikan yang dijualnya. Memiliki semangat yang tinggi dalam memasarkan ikan dari restoran satu ke yang lainnya, jerih payahnya pun terbayar sudah. Banyak restoran yang mulai menjadi konsumen dan memesan ikan kepadanya.

Bisnisnya berkembang, hingga akhirnya ia pun mendirikan pabrik pengolahan ikan dengan nama PT ASI Pudjiastuti Marine Product pada 1996. Dengan produk unggulan berupa lobster yang diberi merek “Susi Brand”, bisnis yang dirintisnya pun meluas hingga ke pasaran Asia dan Amerika.

Ingin memberikan kualitas yang terbaik bagi pelanggan yang tersebar hingga ke Amerika, membuatnya memerlukan sarana transportasi udara yang dapat dengan cepat mengangkut produksi hasil laut dalam keadaan masih segar. Ia pun memutuskan untuk membeli pesawat dengan menggunakan pinjaman bank.

Namun, hal tersebut tak berjalan mulus, ia mengalami hambatan dalam mengajukan pinjaman. Mengajukan pinjaman sejak 2000, ia harus bersabar menunggu selama lima tahun untuk pencairan dana. Alhasil, pada 2005 dana tersebut cair dengan nominal Rp47.000.000.000.

Dana tersebut digunakannya untuk membeli 2 unit pesawat, Cessna Caravan. Selain, membantunya dalam mengakomodir pengiriman ikan, pesawat tersebut juga pernah digunakan untuk mengirim bantuan kepada korban Tsnuami Aceh yang ditawarkannya secara cuma-cuma atas rasa kemanusiaan tinggi yang dimilikinya.

Dari kemdermawanannya tersebut, ternyata membawa bisnisnya ke arah yang lebih cemerlang. Banyak permintaan dari LSM dalam maupun luar negeri, hingga akhirnya ia pun menjajal dalam mengembangkan bisnis barunya dalam bidang transportasi. Tepatnya, sebagai penyedia jasa transportasi berbagai produk di bidang perikanan, dengan nama “Susi Air”.

Sukses dalam bidang bisnis, Susi pun mencoba membentangkan kiprahnya dalam bangku pemerintahan. Memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi, memungkinkan menjadi alasannya terpacu menjadi seorang Menteri Kelautan dan Perikanan yang dilantik secara resmi pada 26 Oktober 2014 silam dalam Kabinet Kerja Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

4. NADIEM MAKARIM

konsultan.co

Nadiem Makarim lahir 4 juli 1984. Nadiem lebih memilih menggunakan ojek saat pulang atau pergi ke kantor ketimbang mengunakan mobil pribadi karena merasa lebih aman, tingkat kecelakaan pada pengguna ojek sangat kecil. Bahkan ia hampir 5 kali sehari naik ojek. Selama menggunakan jasa ojek, ia tidak pernah mengalami kecelakaan tidak seperti saat ia menggunakan taksi, dirinya pernah dua kali kecelakaan, kendaraan pribadi tiga kali kecelakaan, dan naik motor pribadi satu kali kecelakaan.

Lantaran sering menggunakan jasa ojek, Nadiem pun sering ngobrol dengan para tukang ojek langganannya. Dari hasil obrolan dan pengamatannya, ia mengetahui bahwa sebagian besar waktu tukang ojek banyak dihabiskan untuk mangkal dan menunggu penumpang.
Saat di pangkalan ojek, biasanya tukang ojek bergiliran dengan tukang ojek lainnya. Sudah giliran, kadang penumpang sepi. Sementara itu, dari sisi pengguna jasa, keamanan dan kenyamanan ojek beum terjamin 100 persen

Dari hasil riset itulah ia mendapatkan ide membuat inovasi bagaimana orang bisa dengan mudah memesan ojek melalui ponsel tanpa harus repot ke pangkalan ojek, jadi orang yang jauh dengan pangkalan ojekpun dapat menikmatinya. Tukang ojek sendiri tidak harus mangkal. Bagi penumpang, menggunakan ojek juga lebih aman karena jelas dan terdaftar.

Ide Nadiem ini juga sejalan dengan salah satu tugas kuliah ketika mengambil master di Harvard Business School. Saat awal merintis bisnis, ia hanya memiliki 10 karyawan dan 20 tukang ojek.

Merintis Gojek

Kecintaannya terhadap jasa tukang ojek berhasil mengantarkannya menjadi pengusaha. Pada 2011, saat masih bekerja sebagai seorang pegawai, Nadiem perlahan merintis GO-JEK. Namun masih menggunakan sistem sederhana alias manual. Saat itu, penumpang masih menggunakan manual melalui telepon dan kirim pesan via ponsel pintar atau smartphone.

Tiga tahun kemudian, dia memutuskan keluar dari perusahaannya. Padahal saat itu jabatan Nadiem cukup strategis, sebagai direktur e-commerce.

Dalam perjalanan, Sopir ojek Go-Jek di lapangan sempat ada gesekan dengan Sopir ojek lokal. Para tukang ojek lokal/tradisional merasa kehadiran Gojek mengurangi pendapatan mereka.

Kini Nadiem Makarim sebagai CEO dan pendiri Go-Jek. Kini, sudah ada 10 ribu sopir ojek yang tergabung dalam Go-Jek. Pertumbuhan 10 ribu Sopir ojek sangat cepat tahun ini. Padahal di awal Januari 2015 saja, mitra Sopir ojek masih 1.000. Aplikasi mobile Go-Jek juga sudah diunduh sebanyak 400 ribu.

Ke depan, Nadiem Makarim ingin memperluas jangkauan Go-Jek ke seluruh Nusantara. Layanannya pun kini tak terbatas pada mengantarkan penumpang, namun juga bisa sebagai kurir atau pengantar makanan.

Bagi hasil

Skema bagi hasil untuk Sopir ojek adalah 80% dari jumlah transaksi yang didapatkan dari penumpang. Go-Jek hanya membekali Sopir ojek dengan jaket, helm dan HP Android.

 

5. William Tanuwijaya

Biodata William Tanuwijaya

William Tanuwijaya lahir di kota Pematang Siantar pada tanggal 18 Novembver 1981. Tak ada yang begitu istimewa dengan kehidupan masa kecil sang pendiri situs jual beli online terkemuka ini. Ia menghabiskan waktu kecil hingga masa SMA di kota kelahirannya. Baru setelah lulus dari SMA, William memberanikan diri untuk meninggalkan kampung halaman dan melanjutkan studinya ke Jakarta.

Meninggalkan kampung halaman dengan dana yang tak begitu besar namun memiliki tekad dan impian yang kuat akhirnya bisa membawanya ke ibukota. Dengan menggunakan kapal laut dari Pematang Siantar menuju Jakarta selama empat hari tiga malam, akhirnya ia pun tiba di Jakarta dengan optimis yang tinggi di dadanya. Ia berhasil masuk di Universitas Bina Nusantara (BINUS) Jakarta.

Di universitas tersebut, William mengambil jurusan Informatika. Menyadari bahwa kehidupan di Jakarta serba mahal sedangkan uang saku dari orang tuanya dari kampung yang tak seberapa, akhirnya membuat William memutuskan untuk bekerja sambil kuliah pada semester kedua. Ia bertekad untuk membantu orang tuanya membiayai kuliahnya.

William pun bekerja di sebuah warnet yang berlokasi tak jauh dari kampusnya sebagai penjaga. Ia bekerja di warnet tersebut mulai jam 9 malam hingga jam 9 pagi. Kehidupan William akhirnya berkutat dengan komputer dan dunia online. Ia yang memang cenderung bersifat introvert sangat tertolong dengan adanya fasilitas internet gratis di tempatnya bekerja. Ia bisa tetap bersosialisasi dengan bergabung dalam group-group online.

Setelah bergelut dengan dunia kampus sembari bekerja sebagai penjaga warnet, akhirnya William Tanuwijaya berhasil lulus dari BINUS. Ia pun mencoba melamar pekerja di sebuah perusahaan di bidang pengembangan software komputer dan diterima. Meski demikian, William memimpikan untuk bisa mendirikan perusahaan sendiri. Ia memiliki impian untuk memiliki perusahaan di bidang internet sendiri nantinya.

Saat ia masih bekerja sebagai penjaga warnet sekaligus mahasiswa pun, ia seringkali dimintai tolong orang untuk membuatkan website toko online. Namun demikian, kebanyakan dari mereka masih begitu awam dengan dunia online padahal keberadaan sebuah website haruslah terus menerus diaktifkan dengan berbagai hal. Tentunya berbagai hal seringkali menjadi kendala bagi para pedagang online. Hal ini memunculkan ide bagi William untuk bisa membuat sebuah situs jual beli online dengan konsep marketplace yang sederhana, terpercaya, serta gratis. Ide ini juga menjadi awal mimpi William Tanuwijaya untuk membangun Tokopedia.

Kisah Perjuangan Membangun Tokopedia

Dengan ide yang dimilikinya, William Tanuwijaya akhirnya mengajak seorang temannya yang bernama Leontinus Alpha Edison untuk membangun Tokopedia yang merupakan startup jual beli online dan bisa menghubungkan antara penjual dan pembeli di seluruh Indonesia secara gratis. Akhirnya pada tahun 2007, William pun mulai membangun Tokopedia. Ide membangun Tokopedia tersebut datang saat William berkesempatan menjadi moderator dalam sebuah forum online yang memiliki fasilitas jual beli.

Dari sinilah kemudian William mulai terinspirasi untuk menciptakan startup baru yang diberi nama Tokopedia tersebut. Namun demikian, untuk membangun situs jual beli online sesuai dengan impiannya tersebut ternyata membutuhkan modal yang besar. Kondisi semakin terasa sulit karena ayah William divonis memiliki penyakit kanker yang tak memungkinkan untuk bekerja.

Di samping ingin fokus dengan pembangunan Tokopedia, William diharuskan untuk tetap bekerja karena ia menjadi tulang punggung keluarga. Meskipun sulit, William memiliki keoptimisan bahwa idenya akan berhasil sehingga ia pun terus berusaha mencari modal atau pendanaan guna mengembangkan usaha yang ia miliki. Belajar dari Facebook serta Google yang berhasil dibangun dan berkembang melalui pendanaan ke ventura yang mau memberikan funding, akhirnya William pun menemui bos di mana ia bekerja untuk menceritakan idenya tersebut. Saat itu, hanya bosnya itulah orang berduit yang ia kenal.

Dari bosnya, ia pun mulai mendatangi kenalan teman-teman bosnya untuk membantunya memodali ide besarnya tentang Tokopedia. William menceritakan tentang Tokopedia yang merupakan sebuah pasar online atau e-commerce di mana penjual dan pembeli di seluruh dunia bisa bertemu. Orang-orang bisa memasarkan produknya melalui situs jual beli yang dibangunnya. Tokopedia ini bisa jadi perantara jual beli yang aman bagi para penggunannya dan diharapkan bisa memecahkan masalah marketplace yang ada dihadapi di Indonesia.

William Tanuwijaya berusaha keras mencari investor untuk membiayai ide Tokopedia yang ia miliki selama dua tahun. Kebanyakan investor yang ia jumpai mempertanyakan tentang pengalaman William dalam berbisnis. Bahkan, tak sedikit yang menganggap bahwa ide William tentang Toko pedia adalah mimpi yang terlalu tinggi. Dari sinilah, William menyadari bahwa modal kepercayaan menjadi hal yang sangat penting. Nyatanya mendapatkan kepercayaan dari orang lain untuk memulai bisnis sangat sulit diperoleh karena ia melakukan usahanya tersebut benar-benar dari nol.

Usaha yang dilakukan William Tanuwijaya akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2009, ia berhasil mendapatkan investor hingga tepatnya pada tanggal 6 Februari 2009, ia pun berhasil mendirikan Tokopedia. Dan tepat pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2009, situs jual beli online Tokopedia yang ia bangun berhasil diluncurkan secara resmi ke publik. Bahkan, Tokopedia pun berhasil mendapatkan penghargaan sebagai e-commerce terbaik di Indonesia dari Bubu Awards.

Mengingat perkembangan Tokopedia yang sangat baik, dari tahun ke tahun situs jual beli online pun terus mendapatkan pendaan dari berbagai investor seperti East Ventures di tahun 2010, CyberAgent Venture pada tahun 2011, Beenos di tahun 2012, serta Softbank di tahun 2013. Bahkan, di tahun 2014, Tokopedia berhasil mendapatkan kucuran dana sebesar 100 juta dollar dari Softbank Internet serta Sequoia Capital untuk menjadikan Tokopedia sebagai marketplace berkelas internasional.

Saat ini Willam Tanuwijaya menjadi CEO Tokopedia bersama rekannya Leontinus Alpha Edison yang menjadi CO Tokopedia. Dari yang awalnya hanya memiliki 4 orang pegawai hingga berkembang menjadi 300 pegawai. Mereka berusaha keras dan tak pantang menyerah untuk menjadikan Tokopedia mampu berkembang secara pesat hingga saat ini. Di tahun 2017, Tokopedia pun berhasil menjadi startup unicorn yaitu startup yang memiliki nilai di atas  USD 1 miliar atau sekitar 14 triliun rupiah.

 

Baca Juga artikel kami :

Ingin Profit Bisnis Anda Naik Berlipat? Atur Strategi Manajemen Operasional Bisnis!

4 Tips Penting Analisis Pasar Agar Bisnis Anda Berkembang

Manajemen yang baik dalam Bisnis

 

Kami Hadir di :

  1. Eldora Utama, Graha Bintaro – Tangerang
  2. Pepelegi Indah, Waru – Sidoarjo

Website :

  1. konsultanmanajemen.asia
  2. konsultanbisnis.id

Instagram :

  1. konsultanco
  2. konsultanco.bisnismanajemen

 

KONTAK KAMI :
Reko Prabowo (081398646177)