KONSULTAN BISNIS DAN MANAJEMEN

Terbaik,+62 813 – 9864 – 6177,
Perjalanan Bisnis Ciputra, Manajemen Bisnis Universitas Ciputra

Related image

Pebisnis properti kawakan Dr. Ir. Ciputra (85) terkenal sebagai figur pengusaha yang tak pelit membagi ilmunya. Di usia senjanya, Pak Ci—begitu sang pelopor ini lazim dipanggil—seakan tak kenal memberikan motivasi dan mentor para pewirausaha pemula. Keprihatinan dan kepeduliannya luar biasa untuk mendorong lebih banyak pemuda yang berkarier di dunia bisnis. Dalam arti mereka tumbuh jadi tak hanya pekerja, tetapi pencipta lapangan kerja.

Menurut Ciputra, menjadi pebisnis pemula bisa dimulai sejak di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Dicontohkan, saat masuk ke pusat perbelanjaan, anak-anak jangan hanya diajak untuk membeli barang. Tapi jelaskan secara sederhana cara membuat barang apa saja yang mereka inginkan. Secara pelan-pelan, jelaskan pula tentang manajemen keuangan hingga urusan menabung. “Bila anak merengek meminta sesuatu, jangan langsung dituruti. Buatlah si anak menjadi kreatif,” katanya.

Beranjak dewasa, si anak bisa diajarkan berjualan. Usahakan barang-barang tersebut yang gampang dibawa dan diminati si anak. Bila ada fasilitas, bagus juga diperkenalkan dengan bisnis online. “Anak saya dulu saya suruh jualan kue di pinggir jalan. Bila beli 2 dapat diskon. Beli 3 diskonnya ditambah lagi,” ujarnya. Ketika makin dewasa, dianjurkankannya membuat 100 daftar tentang bisnis apa saja yang akan dilakukan. Setelah ditelaah, seleksi bisa mengerucut menjadi 10 hingga 3 bisnis utama yang sesuai.

Pilihan lain, mencari mentor bisnis yang sesuai dengan bisnis yang akan dijalankan. Dengan mentor itu, calon wirausaha bisa dengan secara jelas menerima arahan bahkan kritikan. “Yang lebih penting lagi adalah inovasi. Bisnis apa pun intinya sama saja, jualan. Yang membedakan adalah inovasi. Bila ditiru orang lain, bikin inovasi lagi. Bikin blue ocean strategy (menciptakan permintaan dengan memanfaatkan pasar yang belum/tidak dilirik kompetitor), bukan red ocean strategy (bersaing di ruang pasar yang sudah dikenal),” ujarnya.

Bila sudah mulai terlihat geliat usahanya, hal yang terpenting adalah modal usaha. Bagi Ciputra, modal usaha bukanlah hal yang penting. “Saya dulu memulai usaha dengan modal dengkul. Yang penting bisa baca peluang dan inovasi”. Setelah bisnis mulai berjalan, biasanya calon pebisnis ini dihinggapi ketakutan bisnisnya bakal gagal. Di situlah sebenarnya mental seorang calon wirausaha dilatih.

Menjadi seorang wirausaha, katanya, harus siap rugi. Namun, bisnis jangan dipersiapkan untuk merugi. Ciputra optimistis, sekitar 30 persen dari total penduduk Indonesia yang memiliki bakat untuk berwirausaha. Dengan cukup dibakar sedikit dengan motivasi dan pelatihan, mereka tersebut siap menjadi wirausahawan di masa mendatang. Ibarat kereta api, Indonesia memiliki banyak gerbong namun kekurangan lokomotif. Lokomotif yang berperan pengerak ekonomi adalah entrepreneur.

Budaya entrepreneurship efektif dikenalkan kepada mahasiswa. Tujuannya, mengubah mindset mereka dari bercita-cita sebagai pekerja menjadi pencipta lapangan kerja. Untuk itu, diperlukan adanya entrepreneurship center di setiap kampus. Budaya entrepreneurship harus dikenalkan kepada mahasiswa dengan tujuan mengubah mindset mereka dari bercita-cita sebagai pekerja menjadi pencipta lapangan kerja. Untuk itu, seperti inisiatifnya mendirikan Universitas Ciputra Enterpreneurship online, perlu ada entrepreneurship center di setiap kampus. (dd)