Bisnis PCR Penuh Intrik dan Kontroversi? 

Tentunya masih hangat di benak Anda terkait masalah dan kotroversi bisnis PCR yang sedang ramai dibicarakan pada November 2021 kemarin. Tes PCR (Polymerase Chain Reaction) sebagai syarat wajib perjalanan masih menjadi perdebatan masyarakat.

Perubahan biaya tes sendiri juga telah memunculkan presepsi yang beragam di masyarakat, seperti anggapan adanya yang memanfaatkannya. Tes PCR sejatinya diberlakukan sebagai upaya menjaga masyarakat Indonesia dari penularan virus Covid-19.

bisnis PCR

Dugaan permainan pada bisnis PCR (Sumber: Ciputra Hospital)

Namun, adanya kebijakan Tes PCR tidak serta membuat masyarakat menjadi percaya penuh terhadap pemerintah, masih ada permasalahan pelik didalamnya. Ada dugaan kuat permainan kecil pada bisnis PCR yang berdampak besar terhadap masyarakat, karena dampak langsung dirasakan oleh mereka.

Yap! benar sekali sangat santer dikabarkan muncul kabar dugaan terkait paket bundling dan pejabat pemerintah memiliki hubungan dengan perusahaan yang berbisnis PCR. Mendengar kabar tersebut, KPPU mengkaji industri PCR termasuk melakukan diskusi dengan berbagai pihak di antaranya BPKP, Persi, Gakeslab, ILKI, ICW dan lainnya.

Paket Bundling Layanan Kesehatan dan Tes PCR

bisnis PCR

Illustrasi (Adanya paket bundling layanan kesehatan dan tes PCR) Sumber : Kompas.com

Dilansir dari Detik.com, Direktur Ekonomi KPPU, Mulyawan Ranamanggala mengakui ada beberapa pihak yang memanfaatkan kebijakan PCR demi meraup keuntungan. Hal itu dilakukan melalui praktik bundling tes PCR, menggabungkan sebuah layanan jasa dengan tes PCR. Praktik bundling diibaratkan seperti layanan konsultasi atau pemeriksaan kesehatan yang digabungkan dengan tes PCR. Ini bisa menjadi sebuah catatan khusus, karena persaingan bisnis dengan model ini dinilai tidak sehat.

Dinilai tidak sehat menurut Mulyawan karena dirasa tes PCR yang di bundling dengan jasa konsultasi  dokter misalnya, akan menambah harga menjadi 2 kali lipat. Sangat merugikan masyarakat yang ingin memastikan kondisinya akan terpapar virus Covid-19 atau tidak. Padahal esensi dari tes PCR sendiri adalah memudahkan seseorang untuk mengetahui apakah yang bersangkutan sedang terpapar virus Covid-19 atau tidak.

Dugaan Kerjasama Pejabat dengan Kelompok Pengusaha Laboratorium Bisnis PCR 

Tidak hanya dugaan kuat adanya bisnis layanan bundling dengan tes PCR, tapi permainan lain juga ditemukan di oknum pejabat yang bekerjasama dengan kelompok pengusaha laboratorium PCR. Oknum pejabat tersebut mungkin sudah banyak diketahui sebagian besar oleh khalayak ramai

Yap, oknum pejabat tersebut memiliki salah satu saham di PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI). PT GSI merupakan perusahaan baru yang didirikan tak lama setelah pandemi Covid-19 merebak di tahun 2020.  Bisnis utama dari PT GSI yakni menyediakan tes PCR dan swab antigen. Sebagai pemain besar, PT GSI bahkan bisa melakukan tes PCR sebanyak 5.000 tes per hari (Dikutip dari Kompas.com, 15/11/2021).

Namun, informasi tersebut perlu diobservasi dan ditelisik lagi untuk mengetahui keabsahannya, agar jatuhnya tidak menjadi kabar burung atau rumor besar saja. Perlu ditinjau ulang jangan sampai bisnis ini semakin mendatangkan keuntungan besar bagi pelaku dan oknum pejabat yang memanfaatkan situasi dan kondisi susah seperti ini.

Proyek bisnis PCR telah berjalan selama lebih dari satu setengah tahun, di mana para pemain di sektor pengujian PCR sangat diuntungkan dari peristiwa pandemi.

Baca Juga artikel kami :

Kami Hadir di :

Eldora Utama, Graha Bintaro – Tangerang
Pepelegi Indah, Waru – Sidoarjo

Website :

konsultanmanajemen.asia

konsultanbisnis.id

konsultan.co

Instagram :

konsultanco
konsultanco.bisnismanajemen

KONTAK KAMI :
Reko Prabowo (081398646177)